Sabtu, 07 Maret 2015

Jadilah Pemimpin Berkarakter Surgawi

Pemuda adalah harapan bangsa, begitu kiranya. Nasib masa depan suatu bangsa, tergantung kepada karakter pemudanya saat ini. Ketika bicara soal pemuda, hal pertama yang bisa kita lihat dan rasakan adalah semangat, optimisme tinggi, dan idealis. Semangat yang berkobar di dada untuk meraih cita-cita dan harapan. Benar kiranya jika Bang Haji Roma Irama berdendang, “masa muda masa yang berapi-api”.

Didalam optimisme dan semangat yang membara, tidak bisa dipungkiri pemuda masih labil dalam menjalani liku kehidupan. Emosi yang belum matang, ditambah godaan lingkungan yang menjerumuskan kian marak. Terlebih dewasa ini, arus globalisasi yang menggurita dihampir seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali moralitas bangsa yang membuat pemuda bangsa terpuruk ke jurang degredasi moral.

Ditengah arus globalisasi, pemuda Indonesia sedang mencari jati diri yang hilang ditelan waktu. Penguatan karakter yang dulu selalu dikumandangkan Ir. Soekarno dalam setiap pidatonya sudah tak terlihat. Ya, harus kita akui dan berlapang dada, bahwa pemuda saat ini sedang terpuruk tergilas arus globalisasi.

Lihat saja judul-judul berita sekarang ini. Masyarakat Indonesia, dewasa ini sangat mudah terpancing emosinya. Gara-gara hal sepele nyawa bisa melayang. Ironisnya, mahasiswa, yang nota bene adalah kaum terdidik pun melakukan hal yang serupa. Mau dibawa bangsa ini ketika para kader bangsa mempunya “mental bandit”.

Melihat realita tersebut, penguatan karakter pemuda bangsa adalah harga mutlak yang harus dilakukan. Dalam tulisan yang sederhana ini, penulis akan menjelaskan tentang salah satu karakter -dari sekian banyak- yang sangat urgen, yang harus dimiliki pemuda untuk perubahan yang lebih baik.

Kuncinya, Disiplin

Adalah disiplin. Disiplin dalam hal apa saja. Ya, disiplin adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit diaplikasikan. Sebagai muslim sejati, semestinya kita sudah berkenalan baik dengan yang namanya “disiplin”. Setidaknya sehari semalam shalat lima waktu dengan ketentuan yang sudah ditentukan oleh Allah SWT, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, mulai dari jumlah rakaat, waktu pelaksanaan dan yang lainnya. Shalat diawal waktu, berjama’ah pula, bukankah itu pembelajaran untuk disiplin dalam kehidupan? yang semestinya mempunyai pengaruh dalam keseharian?

Bukankah Allah SWT sudah memberikan contoh kepada kita untuk selalu disiplin. Lihat saja pergerakan matahari. Dengan disiplin yang tinggi, matahari terbit di timur setiap pagi dan tenggelam diujung barat menjelang petang. Selalu begitu setiap hari. Coba bayangkan kalau matahari terbit di siang bolong, hancurlah dunia ini. Tapi, berkat disiplin, matahari senantiasa setia untuk selalu mengahangatkan bumi atas izin Tuhannya.

Tidak hanya itu, Tuhan pun memberi kita contoh tentang pentingnya disiplin dalam tubuh kita. Apa itu? jantung. Ya, denyut jantung adalah bukti bahwa seorang manusia masih diberi kenikmatan untuk hidup. Andai jantung tidak disiplin dalam memompakan darah keseluruh tubuh, apa yang terjadi dengan manusia?


Lihat juga bangsa-bangsa maju didunia, seperti Amerika, Jepang, Korea, Cina dan yang lainnya, sebagai suatu pembelajaran dan refleksi dalam hidup. Apakah mereka menjadi negara maju tidak dengan tradisi disiplin? Saya rasa tidak ada suatu kesuksesan yang diraih tanpa adanya disiplin.
oleh: Aan Herdiana

Jumat, 06 Maret 2015

Makna Jihad Bagi Mahasiswa

Jika dalam tulisan ini, saya mengangkat tema jihad, rasanya isu terorisme menjadi wacana yang sangat relevan. Entah siapa yang memulai, tapi dua istilah ini, dalam beberapa tahun terakhir menjadi “sangat akrab” di telinga dan selalu hangat untuk diperbincangkan dari forum resmi, semisal seminar, sampai warung kopi pinggiran jalan. Walau dewasa ini, isu terorisme sudah jarang menghiasai televisi tanah air (karena disibukkan dengan kasus koruopsi yang tak kunjung usai) bukan berarti isu ini hilang bagitu saja.
Tetapi dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas hal itu. Terlalu luas dan kompleks untuk menjelaskannya disini. Selain itu, pengetahuan saya juga belum memadai untuk mengkritisi dan menganalisis. Dalam tulisan ini, saya hanya ingin menjelaskan tentang jihad dalam arti yang sederhana, yang membumi, untuk bisa dipahami dan diaplikasikan dalam keseharian.
Dalam artian yang sederhana, jihad adalah berjuang dengan sunguh-sungguh menurut syari’at Islam. Ada perjuangan, ada kesungguhan, dan kerja keras untuk mencapai sesuatu, itu kunci jihad dalam tulisan ini. Selama ini, pemahaman jihad seakan melangit, dan selalu diidentikkan dengan kekerasan atau peperangan fisik saja, seolah jihad tidak berlaku dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal, kesungguhan ataupun kerja keras dalam keseharian harus selalu ditanamkan. Misalnya seorang pelajar atau mahasiswa, harus senantiasa bersungguh-sungguh dalam melakukan aktifitasnya di dunia akademis. Seorang pemuda harus sungguh-sungguh mempersiapkan segala keperluannya untuk pernikahan. Bukankah belajar dan menikah adalah ibadah?
Allah SWT pun sudah berjanji kepada para mujahid (orang yang berjihad) yang mengharap ridha-Nya, dengan memasukkannya ke dalam surga. Sungguh tempat yang diidam-idamkan oleh seluruh umat manusia, yang beragama. Jika kita berbicara tentang surga, maka kita akan memperbincangkan sesuatu yang indah dan membahagiakan. Jangan terlalu berfikir jauh dengan membayangkan bagaimana kehidupan surga di akhirat? Karena di dunia pun, kita sudah bisa merasakan surga, kalau kita sunguh-sungguh.
Jika dalam kuliah, yang hanya empat tahun saja, dibarengi dengan kesungguhan dan kerja keras dalam menuntut ilmu, maka orang tua akan tersenyum bahagia melihat anak tercintanya memakai baju kebesaran sarjana dan meraih kesuksesan. Bukankah senyum orang tua adalah surga bagi kita, anak-anaknya?
Berlainan, jika dalam kuliah tidak ada kesungguhan dan motivasi yang kuat dalam diri. Kuliah hanya sebatas formalitas dalam hidup. Datang, duduk, absen, nongkrong dikantin, mengerjakan makalah alakadaranya, skripsi tak kunjung selesai dan lain-lain. Benar apa yang dikatakan dosen saya, bahwa mahasiswa yang belum selesai-selasai merampungkan skripsi dalam  rentang waktu yang cukup lama, ada satu bab yang belum dia selesaikan dan kuasai, yaitu: bab niat. Ya, untuk bab yang satu ini, memang tidak diajarkan dikampus, tapi timbul dari hati yang penuh dengan kesungguhan.
Keutamaan jihad
Dalam kitab Jawahirul Buchari, karangan Mustafa Muhammad Umarah, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: keutamaaan jihad adalah seperti orang yang berhaji mabrur. Selain itu, Nabi SAW juga bersabda, orang yang paling utama adalah seorang mukmin  yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.
Seperti yang kita tahu, haji adalah rukun Islam terkahir, yang tidak semua umat Islam mampu melaksanakannya. Hanya orang yang terpilih, mau dan mampu saja, baik dari segi fisik, materi, keilmuan maupun hatinya.
Bagi muslim yang beriman, melaksanakan ibadah haji ke tanah suci merupakan suatu keinginan dan harapan yang selalu dijaga dalam hati. Tetapi sayangnya, tidak semua harapan itu bisa terkabul. Tetapi mengapa Rasulullah SAW bersabda, bahwa keutamaan jihad adalah seperti orang yang berhaji mabrur.
Hemat saya, titik fokus dari sabda Nabi tersebut adala jihad (kesungguhan) dalam melakukan apapun, dalam profesi apapun yang digeluti manusia, laksana perjuangan untuk memperoleh “gelar” haji mabrur. Sekali lagi, umat muslim harus senantiasa bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam mencapai sesuatu, yang mana kesungguhan itu, keutamaannya sama dengan orang yang pergi haji.
Telebih kepada mahasiswa, kepada diri saya sendiri, atau pemuda pada umumnya. Jika kita melihat sejarah, peran pemuda dalam setiap proses perubahan sosial, dimana pun, kapan pun, dibelahan dunia ini tidak bisa dihilangkan. Semangat pemuda, selalu menjadi corak warna yang khas, yang mewarnai peradaban dunia.
Di awal perjuangan Islam, Rasulullah pun memegang salah satu elemen dalam perubahan itu, yaitu pemuda. Sebagai contoh, ada Ali bin Abi Thalib. Dengan semangat dan kecerdasannya Ali setia dan patuh kepada Rasulullah. Bahkan Ali rela mati untuk panutannya itu.
Pun begitu dalam sejarah panjang bangsa ini, goresan tinta emas perjuangan pemuda selalu menjadi warna tersendiri, dalam catatan sejarah kemerdekaan Indonesia. Termasuk dalam penggulingan rezim otoriter yang berkuasa lebih dari tiga puluh tahun, mahasiswa dan pemuda mempunyai peran yang vital. Walau ada yang beranggapan, jatuhnya Soeharto karena ulahnya sendiri, jadi mahasiswa tinggal “menyenggolnya” maka, ia akan jatuh dengan sendirinya. Terlepas dari itu, pemuda dan mahasiswa mempunyai peranan yang penting dalam mengisi kemerdekaan bangsa ini.
Refleksi sumpah pemuda
Momen sumpah pemudah yang akan diperingat dalam waktu dekat (28 Oktober), sudah seyogyanya menjadi bahan refleksi untuk pada calon pemimpin bangsa. Sudahkah kita bersungguh-sungguh memperjuangkan tonggak estafet kepemimpinan dan  amanah dari para pahlawan yang gugur di meda perang. Ataukah kita hanya berleha-leha, bersantai ria menikmati kemerdekaan ini, tanpa mengisinya dengan kesungguhan dalam setiap hembusan nafas, pemikiran dan perbuaatan.
Dengan momentum sumpah pemuda, kesungguhan dalam capaian tertentu harus dilipatgandakan. Karena janji Tuhan, akan ada kebahagiaan, setelah kesungguhan dan kerja keras yang tak kenal lelah.  

Jadilah “surga” untuk diri sendiri, keluarga, dan orang-orang yang kita cintai dengan bersungguh-sungguh mengabdikan diri kepada Yang Maha Kuasa, dengan mengotimpalkan seluruh potensi yang ada.
oleh : Aan Herdiana

Rendra dan Dunia Drama


“Kehidupan Rendra memang colour full, penuh dengan warna-warni, menegangkan, dan mempesona” kata Sapardi Djoko Damono. Tidak berlebihan memang, jika Sapardi menyebut demikian, karena selain penyair, Rendra juga seoarang pemain teater (bahkan sutradara) yang kharismatik. Hal senada juga diungkapkan oleh Emha Ainun Najib dalam sebuah wawancara di bengkel teaternya, Cak Nun mengatakan bahwa Rendra tetap laki-laki garang yang komunikatif. Mripatnya (matanya) dua matahari berpijar, membuat aliran darah terasa lain dan baru
Kritik-kritik sosial Rendra, selain ditulis dalam puisi, juga dipentaskan lewat pertunjukkan drama. Pengaplikasian ide-ide Rendra dalam drama, bukannya tanpa sebab. Selain memang ia mempunyai bakat alamiah untuk menjadi aktor, keadaan waktu itu pun menuntut Rendra untuk tidak hanya sebatas menulis puisi dalam mengkritik.
…tahun 1961 banyak majalah yang dibreidel, antara lain majalah yang banyak memuat sajak-sajak dan cerpen. Lantas saya mulai berfikir, waduh, bagaimana ini, saya kehabisan uang saku. Dan bukan hanya itu. Ide-ide saya lantas tak bisa keluar karena tidak bisa dimuat. Saya pun lama vakum, tapi masih menulis sajak, sedikit-sedikit, satu-dua biji.
Dalam pementasan drama sekalipun, kritik sosial tetap menjadi tema pokok Rendra. Sebagai misal, drama yang berjudul “Dunia Azwar”, yang dipentaskan Rendra bersama bengkel teaternya tiga malam berturut-turut di Teater Terbuka TIM, Jakarta. Bukan barang baru memang, jika dalam lakon sandiwara Rendra sering terkandung kritik terhadapa keadaan masyarakat.
Akan tetapi, sesuatu yang baru dalam “Dunia Azwar” adalah kritik itu tentang masalah-masalah yang aktual dan dikemukakan dengan cara terang-terangan. Bahkan memakai plakat-plakat ala demonstrasi segala.
Walaupun beberapa adegan dalam pentas tersebut terasa bertele-tele, kelewat lama, tanpa cukup variasi-variasi. Akan tetapi, Rendra dengan bengkel teaternya memulai sesuatu yang baru, yang orisinal, yang tak konvensional. Pendobrakan sudah dimulainya, mengagetkan, tapi umumnya dapat diterima sebagai sebuah kenyataan dan kritikan.
Selain itu, cerita Mastodon dan Burung Kondor juga menganngkat tema yang kurang lebih sama. Dalam cerita tersebut, Rendra tidak menyebutkan apa-apa tentang Indonesia –karena latar sosialnya diambil di Amerika Latin-. Akan tetapi, menurut Gunawan Muhammad, Rendra telah berhasil merumuskan masalah-masalah di Indonesia dengan aktual dalam drama tersebut.
Misalnya, di satu pihak ada pertumbuhan ekonomi –yang dalam lakon ini disebutkan dengan cara yang sengaja dilebih-lebihkan: 260%. Akan tetapi, di lain pihak, penderitaan rakyat kecil tidak banyak mengalami perubahan, bahkan cenderung memburuk. Kata-kata Jose Karosta (penyair dalam cerita tersebut), kata Gunawan Muhammad, bukan saja menunjukkan kepandaian Rendra dalam metaphor, tetapi juga menampakkan persepsi dan pengetahuannya yang kuat tentang masalah sosial.
Aku memberi kesaksian, bahwa dibangunnya pabrik-pabrik untuk kepentingan modal asing, tidak berarti mengurangi jumlah pengangguran. Saya memberi kesaksian bahwa pemerintah telah bersungguh-sungguh membina tenaga tidak untuk mobilisasi, tetapi untuk kekukuhan, tidak untuk dinamis, tetapi untuk teguh dan angker, tidak untuk mencipta barisan semut-semut yang bekerja, tetapi barisan gajah-gajah yang suka serba mempertahankan.
Cerita lainnya –yang masih mengangkat tema yang sama- adalah drama yang berjuduk “Sekretaris Daerah” atau yang disingkat sekda. Dalam drama tersebut Rendra bermain bersama dua orang istrinya, yaitu Sunarti ( yang menjadi istri sekda) dan Sitoresmi (menjadi seorang hostess).
Menurut Sides Sudiarto, drama (dagelan?) ini sangat penuh berisi kritik sosial. Kritik dalam sekda paling dominan dan sangat tepat kalau dikatakan bahwa sekda adalah kritik seluruhnya atau kritik total. Pertanyaannya kemudian, siapa saja yang mendapat bagian kritik dalam cerita tersebut? Jawabannya, semua dapat bagian. Mulai dari pejabat, pemerintah, tentara, pemuda-pemudi, orang tua, masyarakat, dan sebagainya.
Akan tetapi yang paling banyak mendapat bagian kritik, tambah Sudiarto, adalah wartawan, setelah itu para seniman pun dapat giliran. Kritik Rendra kali ini sangat tajam, terutama kepada wartawan yang kena sogok, pejabat yang hanya memperkaya diri sendiri, penjilatan kepada atasan, pelacuran intelektual, dan masalah akutal lainnya secara bergantian digasak Rendra.

Bukan Rendra namanya kalau tidak bisa memainkan kata-kata penuh makna. Salah satu kritik (sosial) yang paling tajam dari dialog sekda adalah sebagai berikut: “Seandainya semua koruptor ditangkap, artinya ganti pemerintahan”. Para penonton pun bertepuk tangan dan bersorak menyaksikan lontaran kritik Rendra. Sebuah tepuk tangan yang menandakan keterwakilan suara hati masyarakat, untuk adanya suatu perubahan yang nyata.
oleh: Aan Herdiana

Definisi Majalah Dinding (Mading)


A.   Sekilas Tentang Mading
Majalah Dinding adalah salah satu jenis Media Komunikasi massa tulis yang paling sederhana. Media adalah sarana untuk menghubungkan antara pemberi informasi dengan konsumen informasi. Lewat media ini pembaca akan tahu tentang apa-apa yang terjadi di luar dirinya. Jenis media ini macam-macam. Ada media elektronik, media cetak, media online, dan seterusnya. Mading hanya salah satu bentuk media tersebut. Berdasarkan bentuknya, mading bisa masuk kategori media cetak.
Seperti namanya, majalah dinding, mading berupa majalah yang ditempel di dinding. Majalah mempunya ciri terbitan yang lebih berkala panjang, misalnya mingguan atau bulanan atau malah empat bulanan. Selain waktu terbit yang lebih panjang, isi majalah juga secara umum lebih tematis atau berdasarkan tema tertentu. Misalnya temanya tentang mencari sekolah baru, berteman di zaman virtual, cinta, persahabatan dan seterusnya.
B.   Ciri-ciri Mading:
1.   Dikelola bersama
Seperti media cetak pada umumnya, pengelolaan mading terdiri dari tiga tahap penting yaitu perencanaan, produksi, dan evaluasi. Perencanaan ini meliputi perencanaan tema dan desain. Sedangkan produksi antara lain pengumpulan informasi (riset, reportase, dan wawancara), penulisan (termasuk editing), dan desain mulai dari layout, foto, dan ilustrasi. Adapun evaluasi bisa berupa evaluasi proses, redaksional, dan desain mading.
2.   Terbit lama dan materi tahan lama
Layaknya majalah pada umumnya, mading pun mempunyai karakter yang sama. Salah satunya adalah waktu. Mading dikelola dengan waktu yang relative lebih lama daripada Koran, semisal seminggu, dua minggu, atau sebulan sekali.
Dengan waktu yang relative lama, maka isi dari mading jangan memuat hal yang cepet “basi” seperti Koran.
3.   Ada rubrikasi
Untuk memudahkan pembaca adanya pembagian (rubric) dalam mading adalah hal yang penting.
4.   Tampilannya ditempel didinding dan sebainya.
C.   Fungsi Mading:
1.   Pengetahuan
2.   Penilaian, bisa lewat kritik, pujian, dll
3.   Hiburan
4.   Ekspresi
5.   Menumbuhkan minat membaca dan menulis
6.   Berorganisasi

D.  Materi mading:
1.   Tema adalah hal yang penting dalam setiap tulisan. Begitu juga dalam mading. Oleh karena itu pemilihan tema harus disesuaikan dengan keadaan sosial, psikilogis dari pembacanya.
2.   Angle (sudut pandang)
Kemampuan penulis untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang tertentu. Misalnya, Cristiano Ronaldo, anglenya ketika dia masih kecil, dan bermain di kebun bersama teman-temannya tanpa sepatu.
3.   Kedalaman
Makin dalam suatu tulisan, makin bagus. Hal ini tak terlepasa dari unsur berita  yaitu 5w+ih
4.   Narasumber
Ketepatan dalam memilih narasumber, mempengaruhi kualitas tulisan. Misalkan kebijakan sekolah, tanyakan kepada kep. Sek.
5.   Rubrikasi
Jika mading materinya itu-itu saja pasti pembaca akan bosan. Karenanya, tulisan yang beragam akan sangat menarik pembaca. Misalnya adala hasil liputan, wawancara, artikel, puisi, cerpen, dll
Ada rubric informasi, opini dan hiburan.
Contoh rubric informasi: berita, reportase, resensi
Opini : surat pembaca, artikel,pro-kontra
Hiburan dan sastra: cerpen, puisi, karikatur, poto, dll
6.   Desain
Setiap orang menyukai keindahan.
E.   Contoh materi mading dalam satu edisi:
Tema Mading: Tahun Baru, Semangat Baru
1. SALAM REDAKSI
2. SUSUNAN REDAKSI
3. DAFTAR ISI
   a. Semangat Baru di Tahun Baru
    b. Cita-cita mu Apa?
    c. Refleksi
     d. dll
f. Wawancara (kepala sekolah, guru, Ketua Osis)
g. Liputan khusus (acara tahun baru sekolah)
h. Puisi
i. Slogan, Motto
g. Karikatur
h. Cerpen
F.   Organisasi pengelola mading
Untuk mengelola sebuah penerbitan majalah dinding, dibutuhkan sebuah tim kerja atau kelompok organisasi. Organisasi pengelola madjalah dinding yang sangat sederhana, paling tidak harus dibangun oleh tim yang terdiri dari:
a.    Pimpinan umum
b.   Sekretaris umum
c.    Bendahara umum
Bidang-bidang:
a.    Bidang redaksi: terkait isi dari mading
b.   Bidang percetkan: desain dan cetak

c.    Bidang usaha: iklan, kerja sama dll.

Arti Sebuah Keluarga


Narkoba, yang sejatinya zat penenang yang digunakan medis, menjelma jadi musuh besar bangsa ini. Keindahan dan kenikmatan “semu” yang ditawarkan, menjadi daya tarik bagi manusia untuk memakainya.
Peran pemerintah dalam memberantas barang haram ini, tidak akan pernah maksimal. Selama setiap individu, belum memiliki kesadaran bahaya mengkonsumsinya. Inilah yang kiranya, harus lebih diperhatikan. Sinergisasi setiap elemen bangsa –termasuk kesadaran individu- harus lebih ditingkaktan.
Nilai-nilai agama, berperan sangat vital dalam setiap tingkah laku manusia. Tentunya, tidak ada ajaran agama manapun yang menyuruh pemeluknya untuk melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri, apalagi menyebabkan problem sosial.
Selain itu, satu hal yang tidak kalah penting adalah arti sebuah keluarga. Senyuman kebahagiaan orang tua, adik-kakak, keluarga besar, dan orang-orang yang menyayangi kita menjadi harga mati yang harus diperjuangkan. Jika anak muda Indonesia, memahami betul apa makna keluarga yang sebenarnya, saya yakin, narkoba tidak laku lagi. 

Nasionalisme: Mengindahkan Moralitas Bangsa

nasionalisme adalah tiang utama tegaknya suatu negara.

Tahukah anda, apakah makna nasionalisme? Walaupun istilah nasionalisme sudah tidak asing di telinga, namun kiranya tidak banyak orang yang memahaminya. Menurut Slamet Muljana[1], nasionalisme ibarat nyawa bagi manusia, jantung kehidupan suatu negara. Dan, nasionalisme adalah tiang utama tegaknya suatu negara.
Dengan demikian, tambah Muljana, nasionalisme pada hakikatnya adalah manifestasi kesadaran nasional dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Pengabdian disini, tentunya tidak terbatas ruang, waktu, kemampuan dan profesi apapun. Pengabdian seorang petani tentunya berbeda dengan pengabdian seorang guru.  Tetapi, semuanya bisa berjalan berbarengan, tanpa mempunyai sikap sayalah yang paling penting. Karena pada dasarnya semuanya sama, caranya saja yang berbeda.
Selain itu, pengabdian pun tidak terbatas waktu. Jika melihat sejarah Indonesia, sebelum dan sesudah merdeka, tentunya ada perbedaan yang signifikan dalam hal cara “pengabdiannya”. Waktu penjajahan, sikap nasionalisme dilakukan dengan berperang melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan. Ketika Indonesia sudah merdeka, tentunya tidak usah berperang lagi dengan penjajah, tetapi harus mengisi kemerdekaan ini dengan hal yang bermanfaat, kreatif, dan produktif, sesuai dengan harapan para pahlwan.
Berbicara sejarah panjang negeri ini, kiranya tidak bisa terlepas dari peran serta kaum muda didalamnya. Dengan semangat, optimisme, kaum muda menjadi warna tersendiri dalam perjuangan bangsa ini. Hal inilah yang seharusnya bisa direflesikan, sebagai suatu kekuatan untuk berbuat lebih baik lagi, dalam mengisi kemerdekaan yang telah memasuki usia ke-68 tahun ini.
Peran pemuda dalam mengisi kemerdekaan sangatlah vital. Karena pemuda adalah aktor masa depan, yang akan membawa bangsa ini mau menjadi apa. Ironisnya, jika melihat kaum muda sekarang jauh dari ekspektasi semua kalangan. Degredasi moral, seolah sangat dekat dengan usia muda, yang nota bene masih mencari jati diri. Misalnya, tawuran antara sekolah yang menyebabkan nyawa hilang sudah beberapa kali terjadi. Melihat fenomena ini, bisa diasumsikan bahwa, kaum muda belum bisa memahmi perbedaan yang ada, baik itu perbedaan pendapat, agama, suku, dan yang lainnya. Yang pada waktu tertentu, bisa menjadi bom waktu yang bisa meledakkan amarah kaum muda, tentunya menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.
Padahal, dalam kehidupan ini, perbedaan adalah suatu keniscayaan. Sesuatu yang pasti adanya. Dengan perbedaan, seharusnya bisa membuat hidup lebih indah dan berwarna. Layaknya, memasak makanan yang menggunakan beberapa macam bumbu, yang membuat masakan itu menjadi enak. Tak terbayang rasanya, jika bumbunya hanya garam saja. Inilah pemahaman yang harus ditekankan kepada kaum muda.
Menghormati dan menghargai perbedaan adalah hal mutlak yang harus dilakukan. Inilah yang harus disadari oleh semua pihak, termasuk pemuda. Sejatinya, pemuda mempunyai peran yang strategis untuk mengawal persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan senantiasa menjunjung tinggi dan mengindahkan moral “nasional”, bekerja dan berusaha untuk kebaikan bangsa Indonesia.
Manusia sebagai makhluk spiritual, sejatinya tidak bisa terlepas agama. Agama manapun di dunia ini, tidak ada yang mengajarkan kejahatan dan keburukan. Oleh karena itu, sudah seharusnya untuk berbuat kebaikan kepada umat manusia dalam rangka pengabdian kepada agama, bangsa dan negara. Dengan suasan kondusif yang terbangun, dimana peran pemuda menjadi titik sentral, kesatuan dan persatuan sebagai modal dasar dalam menghadapi arus globalisasi –yang tak selamanya positif- .
Sekiranya, kita mampu melihat umat beragama lain sebagai saudara dalam kemanusiaan. Dan, mereka yang seideologi sebagai saudara dalam keimanan.[2] Dengan pemahaman itu, sekuat apapun musuh mencoba untuk menebar virus-viur konflik, semuanya akan sia-sia. Adalah tanggung jawab semua elemen bangsa, termasuk pemuda yang tercerahkan, untuk menjaga persatuan dan kesatuan berbasis toleransi agama.
Oleh: Aan Herdiana
   



[1] Slamet Muljana, Kesadaran Nasional Jilid I, (Yogyakarta: Lkis, 2008) hal. 3-5
[2] Dalam makalah Masdar Farid Masudi, dalam acara diskusi nasional tanggal 15 Januari 2013, di STAIN Purwokerto.

Mempertimbangakan Rendra di Era Orde Baru

Periode 1966 hingga 1998 merupakan periode yang memiliki ciri khas tersendiri dalam sejarah panjang Indonesia. Dalam rentang waktu tersebut, Orde Baru lahir dan berkembang dengan segala “keistimewaan” yang menyelimutinya, selama tiga dekade lebih memimpin Indonesia. Menurut Michael vatikiotis, merupakan suatu periode kepemimpinan seorang penguasa yang paling lama dalam sejarah Asia Tenggara modern.
David Bourchier (dalam Harry Aveling, 2003:1) memberikan suatu kesimpulan, bahwa apabila ditarik benang merah ideologi selama pemerintahan Soeharto, maka konsepnya adalah “ketertiban”. Dalam hal ini, Soeharto mengencangkan stabilitas, ketertiban, dan kemanan sebagai “objek” dari perkembangan itu sendiri, yaitu untuk membuat rakyat -secara fisik- merasa aman dan tentram, bebas dari ketakutan dan ancaman.
Dalam hal ini tidak dapat dipungkiri, bahwa dalam upaya mengejar “ketertiban” selama bertahun-tahun, berbagai kebebasan telah lenyap. Kepemimpinan Soeharto semakin otoriter, sistem politik semakin lama semakin kaku (atau dikakukan?), di samping itu, militer berusaha keras membangun diri untuk menjadi elemen kekuatan politik dominan di negeri ini, tak tertandingi oleh kekuatan-kekuatan lainnya.
Dalam pelaksanannya, selain mengurus hal-hal yang makro dalam negara, untuk melanggengkan kekuasaan, Orde Baru juga “menertibkan” setiap pemikiran dan perbuatan individu. Di mana ekspresi semakin sempit, opini atau pendapat pribadi terus menerus dicurigai, dan bahkan diiringi ancaman hukuman, dengan penangkapan atau dipenjara.
Bencana bagi penulis
Konsep “penertiban” Soeharto juga merambah ke dunia sastra. Henk Maier –profesor bahasa melayu dari Universitas Leiden, Belanda- mengatakan bahwa Soeharto dan aparat pemerintahannya telah menjadi bencana bagi sebuah generasi penulis, merampok mereka dari kekuatan generatifnya, kekuatan untuk menjadi saksi sejarah yang bisa mengabarkan pada dunia luar apa yang sebenarnya terjadi di depan mata mereka.
Dalam situasi yang demikian, Rendra bagaimanapun adalah seorang sastrawan yang gigih menyuarakan kritik pada masa pemerintahan Orde Baru dan sering menantang bahaya sepanjang tahun 70-an. Keluar masuk penjara adalah hal yang biasa ketika kata dilawan dengan senjata, bahkan kuasa.
Ia pertama kali ditangkap pada Desember 1970, karena ikut ambil bagian dalam “Renungan Malam” sebagai aksi menentang kesewenang-wenangan pemerintah. Pada tahun 1973, ia ditangkap kembali akibat pementasan drama Mastodon dan Burung Kondor. Sebagai konsekuensi dari pementasan drama ini, Rendra dilarang mengadakan pementasan lainnya di Yogyakarta sampai tahun 1977, karena keadaan khusus yang terjadi di daerah.
Selain lewat drama, kritik Rendra terhadap pemerintah juga hadir dalam puisi-puisinya di sepanjang tahun 1970-an. Bahasa dalam puisi tersebut –yang kemudian dikumpulkan dalam buku puisi Potret Pembangunan dalam Puisi- tertuju langsung dan jelas-jelas menampakkan seruan emosi si “pemberontak”. Sajak-sajak itu secara umum, mengkritik efek dari industrialisasi, pendidikan, moral, dan lainnya terhadap keseimbangan antara kemanusiaan dan alam, juga menyerang perilaku materialistis –tanpa memikirkan kesejahteraan rakyat-.
Pada tahun 1971, setelah pengembaraan intelektualnya di Amerika, Rendra mulai bisa melihat masalah sosial-politik-ekonomi secara sturuktual dan menyeluruh di negeri ini. Untuk itu, ia “terpaksa” harus rela melepaskan dirinya dari pesona misteri dan ambiguitas, yang selama ini lekat dengan puisi-puisinya. Ia sadar gagasan, pesan, ide dan kritiknya kali ini memerlukan sarana estetika yang lain. Metafora simbolistis dan surealistis sudah tidak sesuai lagi. Yang diperlukan kali ini adalah metafora-metafora baru yang plastis dan grafis.
Dengan metafora plastis dan grafis, dan dengan bahasa yang transparan, sajak-sajak Rendra, jadi kurang kadar puitisnya. Hampir tampak antipuitis, seperti kata A. Teeuw, bahwa sajak-sajak Rendra seperti “koran”. Akan tetapi, memang Rendra menulis untuk dimengerti, bukan untuk menghidangkan teka-teki.
Pada pemerintahan Orde Baru, karya sastra (puisi pada khususnya) tidak dijadikan sebagai alat untuk memapankan kekuasaan. Pemerintah lebih “senang” menggunakan agen-agen yang bergerak pada ranah institusi, yang secara publik mempunyai kewenangan (Arif Hidayat, 2012: 164). Sementara itu, puisi berada di “wilayah lain” yang tidak diinginkan.

Rezim Orde Baru sejatinya membolehkan penyair untuk berekspresi asalkan dengan tidak mempunyai ideologi yang tidak mengkritik atau bersebrangan dengan pemerintah. Oleh karenanya, wilayah religious, juga pandangan tentang sufi menjadi bagian yang paling aman untuk dituliskan. Mereka memilih menyampaikan wacana sufi karena ada dalam ranah yang tidak mengusik pemertintah. Di satu sisi posisi mereka aman dalam membuat sejarah sastra baru, di sisi lain juga aman untuk mendekati publik.
oleh: Aan Herdiana